Kewibawaan dalam Pendidikan

Selasa, 13 Januari 2015

1513280

Oleh : Dinno Mulyono

Guru juga manusia, itulah ungkapan yang sering kita dengar melalu berbagai media yang berkembang saat ini. Tuntutan kehidupan secara ekonomis, telah mendorong guru untuk ‘keluar’ dari berbagai kode etik kehidupan seorang pendidik. Guru yang merangkap berbagai pekerjaan sampingan kini menjadi hal yang lumrah. Guru yang menyambi menjadi pengajar les privat, penerjemah, penulis, pedagang hingga menjadi ojek pun tak sulit kita temukan sekarang. Standar pendapatan guru selain PNS pun beragam. Ada yang hanya mengandalkan dana BOS yang turunnya entah berapa bulan sekali, guru swasta yang menerima gaji hanya sebatas jam pelajaran saja dan sebagainya. Bila data kita kumpulkan, mungkin hanya sedikit guru yang memperoleh gaji hingga batas Upah Minimum Kota. Sisanya, hanya mengandalkan jargon, kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Walaupun dalam prinsip dasar keikhlasan tetap harus memperhatikan nilai kehidupan manusia itu sendiri, termasuk para guru.

Tuntutan ekonomi, seringkali menjadi dorongan bagi para guru untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Tak jarang di sekolah-sekolah tertentu, siswa turun dari mobil-mobil mewah keluaran terbaru, sedangkan guru hanya menggunakan angkutan umum. Siswa kini menggunakan berbagai gadget terbaru, sedangkan guru hanya menggunakan telepon genggam dengan fungsi paling minimal, yaitu telepon dan sms, tak ada fasilitas kamera apalagi internet. Fenomena seperti itu membuat guru seolah kehilangan kewibawaan dan identitas sebagai tenaga pendidik. Padahal semestinya guru memiliki kewibawaan yang penuh sebagaimana tugasnya sebagai agen pemanusiaan.

Kewibawaan memang tak sepenuhnya berasal dari banyaknya kekayaan, kekuasaan dan penampilan. Kewibawaan pun tak bisa dipaksakan untuk muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang semakin skeptis dengan nilai moral dan disorientasi identitas budaya sebagai sebuah bangsa. Kewibawaan hanya akan muncul pada saat nilai moral dijunjung, sikap toleransi berdasarkan saling hormat menghormati bisa ditegakkan secara tepat dan hukum ditempatkan sebagaimana mestinya, bukan hanya sebatas komoditas yang bisa diperjual belikan pada rakyat kecil dan tak mempan menghadapi kalangan elit politik dan penguasa.

Kewibawaan guru, memegang peranan penting dalam pembentukan karakter kehidupan sebuah masyarakat. Pendidikan adalah sebuah proses dimana manusia mengalami beragam perkembangan untuk menemukan identitasnya sebagai manusia sesungguhnya. Pendidikan adalah pewarisan nilai kehidupan yang berkembang sejak manusia menemukan kebudayaan untuk membantunya mempertahankan tradisi kehidupan secara utuh, materil dan immateril. Dalam proses pendidikan guru lah yang menjadi ujung tombaknya. Guru pula-lah yang membantu orang tua untuk mengarahkan potensi setiap anak supaya mencapai hasil yang paling maksimal, bukan hasil dalam bentuk angka semata, tapi hasil dalam guratan prestasi yang terukir dalam sejarah kehidupan tiap anak. Ini jauh lebih berharga daripada sekedar nilai ijazah yang hanya meloloskan anak dari standar ambigu.

Penulis, dosen tetap prodi PLS
STKIP Siliwangi Bandung